Terlambat untuk sebuah pengetahuan adalah penyesalan

Erwin senang betul melihat adik kelasnya, Wawan, yang semakin dekat dengan adiknya Ratih. Maklum, ada kisah memilukan tersimpan di benak Erwin 20 tahun silam. Saat Erwin berusia 7 tahun, dia kehilangan adik lelaki yang masih berusia 3 tahun, yang banyak orang bilang, sedang lucu-lucunya. Erwin dan orang tuanya bahkan sempat dirundung kesedihan mendalam, sedang ayahnya nyaris depresi lantaran kekecewaan beratnya. Tapi kita simpan dulu cerita tentang kehilangan Erwin tersebut.

Saat ini Erwin sudah berusia 27 tahun dan bekerja di perusahaan teknologi informasi, yang berkantor pusat di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Sedangkan Wawan, 23 tahun, tak lain adik kelas Erwin di kampus dulu, yang kini sedang magang di kantornya.

Erwin mengenal Wawan ketika masih menjadi asisten dosen, saat menjelang beres menyusun skripsi. Di mata Erwin, seorang Wawan adalah sosok yang sama cerdas dengan dirinya, namun memiliki daya juang yang tinggi, keingintahuan yang besar, dan juga kesabaran yang bagus dalam menyelesaikan tugas kuliah seberat apapun. Karena itulah Erwin menaruh rasa salut kepada Wawan, terlebih ternyata keduanya pun cocok dalam berdiskusi. 

Terlebih Wawan pun menganggap Erwin sudah seperti abangnya sendiri. Keduanya cocok bertemu satu sama lain, lantaran kebetulan Erwin memang senang melihat lelaki charming yang umurnya sekitaran almarhum adiknya. Ya, Erwin sangat mendambakan seorang adik laki-laki, pasca meninggalnya sang adik dua dekade lalu. Meski begitu, ketika Erwin berusia 11 tahun, lahirnya Ratih, adik bungsunya. 

Seperi menumpahkan rasa kasih sayang yang tak terbendung, Erwin sangat menjaga Ratih dari sejak bayi hingga saat ini. Walaupun dalam hatinya, masih ada rasa ingin memiliki adik laki-laki, sebagai pengganti kehilangannya yang sangat mendalam. Tepat ketika Erwin berusia 20 tahun dan Ratih 9 tahun, sang ayah pun wafat. Sejak itulah Erwin menjadi seperti sosok ayah bagi Ratih dan pengayom keluarga bagi ibunya.

Singkat cerita, saat itu Erwin dan Wawan sama-sama baru pulang dari kantor. Wawan yang tinggal kost tidak jauh dari kantor, hari itu sengaja ingin main ke rumah Erwin -yang sebenarnya modus utamanya adalah ingin bertemu Ratih, sang adinda yang ibarat bunga, sedang merah merekah di usia 16 tahun. Karena hari itu adalah Jumat alias akhir pekan.

Namun karena restu dari kakanda sudah tampak jelas, maka bila diibaratkan lagi, peluang Wawan dan Ratih untuk menjalin hubungan lebih serius, sangat besar. Bahkan bisa jadi di usia belum 20 tahun, Ratih sudah dilamar Wawan. Petang itu, Ratih seperti biasa, menyambut abangda dengan teh manis hangat dan kudapan. Namun Ratih tak menduga, ternyata kakaknya datang bersama Wawan. "Eh ada kak Wawan," ujar Ratih dengan senyum manisnya.

"Bang Erwin nanti teh sama kue ada di meja makan ya."

"Baik dek. Eh kamu bikinkan juga Wawan teh manis ya. Kami mau sholat dulu, mumpung masih ada waktu magrib."

"Oh iya, baik bang.."


Malapetaka menyelinap

Dan begitulah kisah di jelang malam di keluarga kecil tersebut. Lalu apa yang terjadi dengan adik Erwin yang meninggal dulu? Kenapa ayah Erwin sampai nyaris depresi lantaran kekecewaannya? Jadi, dulu waktu Erwin dan adiknya, Dody, masih kecil, keduanya sering ikut dengan ayahnya yang seorang petani kebun. Ayahnya sering mengajak Erwin dan Dody, bila sedang libur sekolah, untuk ikut bekerja dengannya di perkebunan buah di kawasan Mekarsari, Bogor.

Singkat cerita, saat itu Dody bersama ibunya sedang bercanda ria di atas tikar yang mereka bawah dari rumah, piknik di area perkebunan buah mangga. Sedangkan ayahnya berkeliling memeriksa pohon-pohon buah. Erwin pun berlari-lari kecil di sekitar kebun. Ketika itu, Erwin melihat sesuatu, yang menurutnya tampak unik. Dia pun mendekatinya sambil melemparkan batang kayu ke objek tersebut. Saat dilempar, dia bergerak-gerak seperti patah-patah. 

Erwin pun ketawa-ketawa sendiri. Sang adik yang melihat kakaknya tertawa sendiri dari kejauhan, langsung menghampiri. Dengan langkah yang masih belum stabil karena masih balita, dia mendatangi Erwin. Keduanya pun tertarik mengganggu mahluk tersebut. Sementara sang ibu, yang dari jauh melihat anaknya seperti sedang bersenang berdua, tidak menyadari bahwa ternyata apa yang dihadapi anak-anaknya adalah maut.

Karena mahluk itu bentuknya unik bagi anak kecil, dan memiliki gerakan patah-patah yang juga menarik bagi mereka, akhirnya Dody yang penasaran pun memegangnya. Ternyata tak diduga, yang dia pegang adalah jenis ular weling (Bungarus fasciatus), yang panjangnya sudah sampai 50 cm. Ular tersebut saat dipegang adiknya langsung mematuk tangan kecilnya. Saat dipatuk Dody langsung melepaskan ular itu, dan pergilah sang ular. 

Tak lama kemudian sang adik menangis karena merasa ada sedikit rasa sakit di sekitar gigitan. "Ibu, adik digigit ular!" teriak Erwin. Sang ibu pun langsung buru-buru berlari menghampiri adiknya. Namun karena tangisan sang adik mereda, ibunya pun hanya menggendongnya sambil memberikannya botol susu. Bahkan sempat Dody tertawa lagi ketika Erwin membercandainya. 

Tapi tak lama kemudian, Dody seperti merasa lelah dan kembali memeluk erat ibunya dalam pelukan. Ibunya kembali memberikannya botol susu dan menggendongnya sambil menepuk pantatnya agar tidur pulas. Namun siapa sangka bahwa ternyata Dody memang tidur pulas selama-lamanya. 

Sejak peristiwa itulah ibu dan ayah Dody mengalami penyesalan terberat dalam hidupnya, karena tidak memiliki pengetahuan tentang jenis ular, penanganan, dan potensi keberadaan ular berbahaya. Keduanya merasa, seandainya mereka sejak dini sudah memahami tentang potensi ular-ular berbahaya, mungkin Dody tidak harus pergi mendahului mereka. Namun begitulah penyesalan, selalu datang setelah semua terlambat. 

Maka sobat Exalos, untuk menghindari hal tersebut, kami sering mengadakan pelatihan dan workshop, untuk masyarakat yang masih awam, bahkan anak-anak. Semuanya kami berikan gratis bagi masyarakat. Tinggal hubungi kami dan kami akan datang..








Post a Comment

0 Comments